Persahabatan Yang Dimulai Dari Dunia Maya
Dion dan Angel, Dion adalah seorang cowok yang
cuek, simple, dan cool. Sedangkan Angel adalah seorang cewek tomboy, cuek,
tetapi fashion dalam berpenampilan.
Persahabatan mereka telah terjalin kurang lebih 4 tahun.
Akan tetapi persahabatan mereka beda dari biasanya. Dion dan Angel hanya akrab
di dunia maya saja, di dunia nyata mereka berlagak selayaknya tidak saling
mengenal satu sama lain. Padahal mereka berdua kuliah di Universitas yang sama,
fakultas, seangkatan dan jurusan yang sama pula. Yang membedakan hanya kelasnya
saja.
Siang itu mereka memiliki jadwal kuliah yang sama,
kelasnya pun bersampingan. Tetapi seperti biasanya mereka tidak saling bertegur
sapa. Hanya saling melemparkan senyuman saja tiap kali bertemu.
“Kalian berdua aneh yah…”
“Aneh gimana?”
“Yah aneh, di dunia maya akrab banget, eh pas ketemu di dunia nyata malah saling cuek-cuekan gitu. Aneh kan?”
“He he he he… iya juga sih, Abis dia juga cuek banget kalo ketemu aku. Masa aku yang negur duluan, nggak banget deh!”
“Ehm, dasar…”
“Aneh gimana?”
“Yah aneh, di dunia maya akrab banget, eh pas ketemu di dunia nyata malah saling cuek-cuekan gitu. Aneh kan?”
“He he he he… iya juga sih, Abis dia juga cuek banget kalo ketemu aku. Masa aku yang negur duluan, nggak banget deh!”
“Ehm, dasar…”
Angel
berlalu dan meninggalkan Enhy sendirian. Enhy hanya menggelengkan kepala dan
menghela nafas panjang melihat kelakuan temannya.
Sepulang
kuliah Angel langsung masuk kamar dan membuka NB nya. Berharap Dion mengiriminya
pesan melalui e-mail, tetapi apa yang diharapkan Angel tak jadi kenyataan.
Perasaan kecewa pun menghinggapinya. Masih dengan perasaan kecewa Angel mencoba
menghibur diri dengan memutar musik melalui ponselnya, sambil memejamkan mata
mencoba untuk istirahat sejenak.
Tak terasa waktu berputar begitu cepat, Angel
terbangun setelah dua jam menikmati tidur siangnya. Setelah Angel tersadar
bahwa jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul 06.00 sore. Membuatnya
tersentak dan bangkit dari tidurnya, manakala sore itu dia memiliki janji untuk
bertemu dengan Dennis. Dennis adalah pacar Angel, mereka telah menjalin
hubungan selama kurang lebih dua tahun. Waktu itu Angel masih menjadi mahasiswa
baru di fakultas ekonomi dan Dennis adalah seniornya. “Mampus gue… Dennis pasti
marah” Angel mencoba untuk menghubungi Dennis dan berniat untuk meminta maaf,
tetapi ternyata HP Dennis tidak aktif. Maka Angel pun semakin panik.
Beberapa detik kemudian. Terdengar suara teriakan
dari luar kamar, memanggil nama Angel. “Angel… ada yang nyariin kamu” Suara
teriakan teman koss Angel “Siapa? tungguin bentar” balas Angel dari dalam
kamar. Angel pun bergegas keluar kamar, penasaran akan siapa yang mencarinya di
sore menjelang malam ini. Dan ketika Angel melihat sesosok lelaki yang tidak asing
lagi baginya, dia pun menghela nafas lega. Ternyata lelaki itu adalah Dennis.
“Ya
Allah Dennis… sorri banget, tadi aku ketiduran. Jadi lupa janji sama kamu, Maaf
yah!”
“Sudahlah Gell, nggak papa kok… lagian tadi juga aku telat ke tempat kita janjian. Aku bahkan mengira kamu dah marah dan pergi. Aku minta Maaf ya Sayang…”
“Sudahlah Gell, nggak papa kok… lagian tadi juga aku telat ke tempat kita janjian. Aku bahkan mengira kamu dah marah dan pergi. Aku minta Maaf ya Sayang…”
Dennis
sangat menyayangi Angel, setiap kali Angel berbuat salah Dennis pasti
memaafkannya. Dua tahun menjalin hubungan menurut Dennis bukan waktu yang
singkat, dia berharap Angel menjadi pendamping hidupnya kelak. Karena hari itu
mereka batal keluar berduaan, maka Angel memutuskan untuk bersantai di kostan
bersama dengan Dennis. Dengan perasaan bersalah Angel mencoba menebus semuanya
dengan memasakkan sphagetti kesukaan Dennis.
“Hm… karena hari ini kita batal jalan, dan untuk
menebus kesalahan ku. Mau nggak aku buatin sphagetti kesukaan kamu?”
“Wah kebetulan banget bebz, aku juga laper banget… belum makan dari siang tadi.”
“Kasian pacar aku… Yah udah, kamu tunggu bentar yah. Aku buatin”
Angel pun bergegas menuju ke dapur, kali ini dia benar-benar bersemangat memasak untuk sang kekasih.
“Wah kebetulan banget bebz, aku juga laper banget… belum makan dari siang tadi.”
“Kasian pacar aku… Yah udah, kamu tunggu bentar yah. Aku buatin”
Angel pun bergegas menuju ke dapur, kali ini dia benar-benar bersemangat memasak untuk sang kekasih.
Dua
jam di lalui Angel bersama dengan Dennis, tidak seperti biasanya. Karena
kesibukan Dennis belakangan ini menyusun skripsi membuat mereka jarang bertemu.
Dan kali ini Angel meluapkan segala kerinduannya ke Dennis dengan
bermanja-manjaan. Tetapi waktu pun harus memisahkan mereka, Dennis pamit dan
meminta maaf karena kemungkinan beberapa hari ke depan dia tidak bisa menemui
Angel. Dan Angel pun memaklumi kesibukan pacarnya itu. Dua tahun mereka
berpacaran, baru sekali terjadi pertengkaran itu pun karena kesalahpahaman
Angel terhadap Dennis. Saat itu Angel melihat Dennis berjalan dengan wanita
lain, yang tak lain adalah sepupunya sendiri. Tatkala pada waktu itu Angel
belum mengenali semua keluarga Dennis karena hubungan mereka saat itu masih
berusia enam bulan.
Terik
matahari di siang ini membuat Angel mengurungkan niatnya keluar kamar. Dia
memutuskan untuk tidak kemana-mana weekend kali ini. Karena keadaan kost yang
sangat sunyi, Angel mencoba menghibur diri dengan memutar tape di kamarnya.
Sambil mendengarkan musik Angel membuka NBnya dan mulai membuka facebook. Sejam
ia Online, tak satupun yang mengajaknya chatingan. Karena merasa bosan, Angel
memutuskan untuk Offline. Akan tetapi, belum sempat tombol sign out Angel tekan
tiba-tiba terdengar nada chat dari NBnya.
“Hai
cewe manis… Kamu lagi ngapain?” ternyata Dia adalah Dion.
“Hai… Kemana aja kamu..? aku nungguin kamu dari kemarin tau.”
“Kenapa, kangen yah?”
“Yee… Maunya, lebih ngangenin pacar ku dari pada loe.”
“Ha ha ha ha… Bisa aja. Kemarin aku sibuk, sibuk pacaran maksudnya. He he he he”
“Sama dunk… Kemarin aku seharian sama si doi.”
“Wah berarti ada yang lagi berbunga-bunga nieh?”
“Gak juga seh, hari ini dan beberapa hari kedepan aku nggak bisa ketemu sama dia. Soalnya dia sibuk ngerjain skripsinya.”
“Yah, udah yang penting kan kemarin udah ketemu.”
“Hai… Kemana aja kamu..? aku nungguin kamu dari kemarin tau.”
“Kenapa, kangen yah?”
“Yee… Maunya, lebih ngangenin pacar ku dari pada loe.”
“Ha ha ha ha… Bisa aja. Kemarin aku sibuk, sibuk pacaran maksudnya. He he he he”
“Sama dunk… Kemarin aku seharian sama si doi.”
“Wah berarti ada yang lagi berbunga-bunga nieh?”
“Gak juga seh, hari ini dan beberapa hari kedepan aku nggak bisa ketemu sama dia. Soalnya dia sibuk ngerjain skripsinya.”
“Yah, udah yang penting kan kemarin udah ketemu.”
Perbincangan
melalui chat hari itu berlangsung lama, tak terasa suara adzan azhar
berkumandang. Menandakan pukul 03.45
“Wah
gak terasa udah azhar, aku off dulu yah!”
“Eit… tunggu dulu Ngell, aku mau minta sesuatu ma kamu”
“Apa?”
“Boleh nggak aku minta no. Hp kamu?”
“Ouh, kirain apaan”
“Boleh kagak?”
“Iyya, boleh kenapa tidak. 08975560XXX, ya udah aku off dulu yah!”
“Okay, nanti aku hubungin yah. See u”
“Eit… tunggu dulu Ngell, aku mau minta sesuatu ma kamu”
“Apa?”
“Boleh nggak aku minta no. Hp kamu?”
“Ouh, kirain apaan”
“Boleh kagak?”
“Iyya, boleh kenapa tidak. 08975560XXX, ya udah aku off dulu yah!”
“Okay, nanti aku hubungin yah. See u”
Yah, selama 4 tahun mereka hanya berkomunikasi
melalui pesan obrolan Fb saja. Dan kali ini Dion memberanikan diri untuk
meminta nomor HP Angel. Dan dengan senang hati Angel memberikan nomer ponselnya
sebelum mengakhiri obrolan sore itu, dan bergegas mandi. Setelah shalat azhar,
Angel mencoba menghubungi Dennis. Tapi hasilnya nihil, Dennis begitu sulit
untuk di hubungi. Tiba-tiba Hp Angel berdering, dengan penuh harapan bahwa
Dennis menghubunginya kembali. Namun ternyata itu hanya pesan SMS dari nomor
yang tak dikenali. Karena merasa malas, Angel tak menghiraukan sms itu. Dan
ternyata pemilik nomer itu adalah Dion, karena tak mendapat balasan dari Angel.
Dion akhirnya menelepon Angel.
“Wah
kamu kok sombong banget seh, sms aku aja gak di gubris” Dion terus nyerocos
tanpa memberi Angel kesempatan untuk bertanya.
“Emang ini sapa? nomer kamu gak ke save di ponsel aku?” tanya Angel kebingungan.
“Ouh, sorri… tadi aku sms gak kasih nama. Ini aku Dion.”
“Ouh, Kamu… ada apa Ion?”
“Gak cuman pengen gangguin kamu aja.”
“Hm, gak ganggu kok… malah aku seneng ada yang gangguin, soalnya suntuk di kosan. Gak tau mau kemana.”
“Wah baru kali ini ada cewe yang aku gangguin malah seneng. Ha ha ha dasar cewe aneh.”
“Loh emang kenapa?”
“Hm, gak kok… emang gak keluar?”
“Gak tau mau kemana, lagian gak seru keluar sendirian. Sebenernya sih aku lagi nungguin someone untuk ngajakin jalan. Tapi gak ada tuh”
“Kalo aku yang ngajakin jalan mau gak?”
“Hm, Gimana yah”
“Emang ini sapa? nomer kamu gak ke save di ponsel aku?” tanya Angel kebingungan.
“Ouh, sorri… tadi aku sms gak kasih nama. Ini aku Dion.”
“Ouh, Kamu… ada apa Ion?”
“Gak cuman pengen gangguin kamu aja.”
“Hm, gak ganggu kok… malah aku seneng ada yang gangguin, soalnya suntuk di kosan. Gak tau mau kemana.”
“Wah baru kali ini ada cewe yang aku gangguin malah seneng. Ha ha ha dasar cewe aneh.”
“Loh emang kenapa?”
“Hm, gak kok… emang gak keluar?”
“Gak tau mau kemana, lagian gak seru keluar sendirian. Sebenernya sih aku lagi nungguin someone untuk ngajakin jalan. Tapi gak ada tuh”
“Kalo aku yang ngajakin jalan mau gak?”
“Hm, Gimana yah”
Sejenak Angel berfikir, daripada ia bengong
sendiri dalam kamar maka Angel menerima ajakan Dion.
“Yah udah, kita ketemu dimana?”
“Serius mau? Gak usah ketemu di luar, aku jemput kamu aja. Okay!”
“Okay… kalo udah di depan kosan aku, kamu sms ajah nanti biar aku yang keluar.”
“Yah udah, siap-siap gih.”
“Yah udah, kita ketemu dimana?”
“Serius mau? Gak usah ketemu di luar, aku jemput kamu aja. Okay!”
“Okay… kalo udah di depan kosan aku, kamu sms ajah nanti biar aku yang keluar.”
“Yah udah, siap-siap gih.”
Setelah menutup telepon, Angel pun bersiap-siap
dan mengganti pakaiannya. Untuk pertama kalinya setelah 4 tahun bersahabat,
mereka keluar berduaan. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Dion pun
datang. Rasa canggung menyelimuti mereka berdua, secara ini kali pertamanya
mereka bertemu langsung.
Dengan laju motor 40km/jam, Dion berhenti di suatu
tempat yang jika didatangi oleh pasangan kekasih, tempat itu sangat romantis.
Dan ternyata benar, Dion sering ke tempat ini dengan pacarnya. Dion telah memiliki
pacar, dia telah menjalin hubungan selama 3 tahun. Hubungan Dion dan pacarnya berawal dari SMU,
awalnya mereka berteman atau bisa di bilang bersahabat. Hingga akhirnya Dion
merasa cocok dengan Ranti dan menjalin hubungan hingga saat ini.
Hubungan mereka semakin awet manakala Ranti juga
kuliah di Universitas yang sama dengan Dion, tetapi berbeda jurusan dengannya.
Kalau dilihat dari segi fisik, Ranti seorang gadis yang biasa saja,
penampilannya pun sederhana. Tapi itulah yang membuat Dion sangat menyayanginya,
hanya satu yang membuat Dion terkadang merasa jenuh dengan hubungannya. Ranti
memiliki sifat pencemburuan dan egois. Setelah memarkirkan motornya, Dion
mengajak Angel ke sebuah tempat.
“Gimana
Gell, kamu suka nggak sama suasananya?”
“Hm, gila tempatnya keren banget Ion. Kamu sering ke tempat ini?”
“Iya, ini tempat favorite aku dan pacar ku. Kalo lagi pacaran aku pasti kesini.”
“Trus, tujuan kamu ngajak aku kesini apa?”
“Yey… otak kamu jangan ngerres. Selain tempat pacaran, di sini juga ada kuliner yang enakkkk bangettt… nah tujuan aku ngajak kamu ke sini, yah untuk nyobain kuliner disini. Uuuhh dasar!”
“He he he he… ngomong donk.”
“Hm, gila tempatnya keren banget Ion. Kamu sering ke tempat ini?”
“Iya, ini tempat favorite aku dan pacar ku. Kalo lagi pacaran aku pasti kesini.”
“Trus, tujuan kamu ngajak aku kesini apa?”
“Yey… otak kamu jangan ngerres. Selain tempat pacaran, di sini juga ada kuliner yang enakkkk bangettt… nah tujuan aku ngajak kamu ke sini, yah untuk nyobain kuliner disini. Uuuhh dasar!”
“He he he he… ngomong donk.”
Setelah
memesan makanan yang menurut Dion enak bangettt sampe T nya tiga kali itu, he
he he he mereka pun melanjutkan perbincangannya.
“Gimana,
enak nggak?”
“Hm…. Enak! he he he …”
“Yah jelas lah enak, dua mangkuk kamu abisin sendiri. Kalo gak enak, berarti kelaperan dunk. He he”
“He he he he… keduanya seh, selain karena kelaperan makanannya juga enak. Jadi pas deh”
“Yah udah, kamu habisin dulu makanannya. Terus aku punya satu tempat lagi yang pasti seru buat kamu.”
“Okay…”
“Hm…. Enak! he he he …”
“Yah jelas lah enak, dua mangkuk kamu abisin sendiri. Kalo gak enak, berarti kelaperan dunk. He he”
“He he he he… keduanya seh, selain karena kelaperan makanannya juga enak. Jadi pas deh”
“Yah udah, kamu habisin dulu makanannya. Terus aku punya satu tempat lagi yang pasti seru buat kamu.”
“Okay…”
Selintas
Angel memandangi wajah Dion, menatapnya dalam-dalam dan bergugam dalam hati.
“Ternyata ngobrol dengan Dion secara langsung lebih seru daripada melalui
obrolan Facebook. Dan malam itu Angel benar-benar menikmati suasana dengan
Dion, sampai-sampai dia ngelupain kerisauannya karena tidak mendapat kabar dari
Dennis seharian ini.
Tepat pukul 11.00 malam, mereka tiba di kostan
Angel.
“Yah
udah, aku pamit yah… thanks atas waktunya.”
“Okay, sama-sama. Justru aku yang berterima kasih udah mau ngajakin ke tempat yang wow banget. Kamu hati-hati yah, kalo udah nyampe rumah sms aku!”
“Okay, Cewe manis…” Dion pun berlalu dengan senyum manisnya.
“Okay, sama-sama. Justru aku yang berterima kasih udah mau ngajakin ke tempat yang wow banget. Kamu hati-hati yah, kalo udah nyampe rumah sms aku!”
“Okay, Cewe manis…” Dion pun berlalu dengan senyum manisnya.
Belum sampai ke depan pintu, ponsel Angel
berdering. Dan semakin membuat cewek itu bahagia karena yang menelepon adalah
Dennis.
“Hallo
sayang…”
“Hay beb… gimana kabar kamu?”
“Sorri yah sayang, seharian aku gak ngasih kamu kabar. Aku baik-baik aja kok, kamu?”
“Aku baik juga. Gak papa kok… tadi aku lagi kangen aja, makanya aku hubungin kamu”
“Tadi handphone aku ketinggalan di rumah bebz, sekali lagi maaf yah.”
“Okay gak masalah kok.”
“Yah udah, aku istirahat dulu yah… capek banget seharian ngurus ini itu. Good night beb. Love U”
“Love U too honey”
“Hay beb… gimana kabar kamu?”
“Sorri yah sayang, seharian aku gak ngasih kamu kabar. Aku baik-baik aja kok, kamu?”
“Aku baik juga. Gak papa kok… tadi aku lagi kangen aja, makanya aku hubungin kamu”
“Tadi handphone aku ketinggalan di rumah bebz, sekali lagi maaf yah.”
“Okay gak masalah kok.”
“Yah udah, aku istirahat dulu yah… capek banget seharian ngurus ini itu. Good night beb. Love U”
“Love U too honey”
Meskipun Angel masih merasa kangen dengan Dennis
akan tetapi, sebagai cewe yang selalu mensuport pacarnya. Angel harus mengerti
dengan keadaan Dennis saat ini. Angel merebahkan badannya ke kasur empuknya,
dan mulai tersenyum sendiri. Manakala ia mengingat apa yang telah ia lewati
malam ini bersama Dion.
Semenjak pertemuan malam itu, Angel dan Dion tak
lagi canggung ketika bertemu di kampus. Mereka saling bertegur sapa, bahkan
jauh kelihatan lebih akrab dari biasanya. Bahkan tak jarang Dion mengajak Angel
ke kantin kampus barengan dan yang lebih lagi Dion berani mengajak Angel pulang
bersama. Siang itu, melalui sms Dion mengajak Angel untuk menemaninya ke toko
buku.
“Angel,
siang ini kamu ada acara gak?”
“Nggak, kenapa Ion?”
“Nemenin aku ke toko buku mau nggak?”
“Hm, Okay deh… ketemuan di toko buku atau gimana?”
“Barengan aja, Aku tunggu di parkiran yah!”
“Okay…”
“Nggak, kenapa Ion?”
“Nemenin aku ke toko buku mau nggak?”
“Hm, Okay deh… ketemuan di toko buku atau gimana?”
“Barengan aja, Aku tunggu di parkiran yah!”
“Okay…”
Siang itu mereka pun menghabiskan waktu berdua di
toko buku. Setelah mendapatkan buku yang Dion cari, maka mereka memutuskan
untuk makan siang dulu baru pulang.
Hubungan persahabatan Dion dan Angel semakin
akrab, bahkan jika ada orang baru yang melihatnya. Akan mengira mereka adalah
pasangan yang sangat serasi. Angel pun terlarut dalam perlakuan Dion yang
begitu perhatian dengannya. Sampai pada suatu ketika, Angel merasa hubungan
mereka sudah di luar kodratnya sebagai sahabat. Bahkan Angel merasa jika di
dekat Dion perasaan saat bersama dengan Dennis muncul menghinggapinya.
Begitupun dengan Dion, rasa sayang sebagai sahabat kepada Angel, seakan
seimbang dengan rasa sayang dia ke Ranti pacarnya. Bahkan bisa di bilang,
perhatian Dion jauh lebih terfokus ke Angel di bandingkan ke Ranti pacarnya
sendiri. Lamunan Angel berhamburan ketika mendengar ada yang mengucap salam.
Dan itu adalah Dennis pacarnya.
“Assalamu
Alaikum…”
“Walaikum Salam… Hey bebz, tumben kamu dateng gak ngasih kabar dulu.”
“Sengaja, aku pengen ngasih surprise buat kamu.”
“Hm, surprise apaan?”
“Nih, aku dateng gak ngomong dulu.”
“Itu seh bukan Surprise, surprise buat aku tuh. Yang kamu dateng kesini ngebawa cincin trus ngelamar aku deh. He he he he… becanda”
“Walaikum Salam… Hey bebz, tumben kamu dateng gak ngasih kabar dulu.”
“Sengaja, aku pengen ngasih surprise buat kamu.”
“Hm, surprise apaan?”
“Nih, aku dateng gak ngomong dulu.”
“Itu seh bukan Surprise, surprise buat aku tuh. Yang kamu dateng kesini ngebawa cincin trus ngelamar aku deh. He he he he… becanda”
Ternyata apa yang Angel omongin itu terjadi, niat
Dennis menemui Angel siang itu memang untuk memberinya sebuah cincin. Dan ingin
memberitahukan niatnya untuk melamar Angel, Dennis sengaja menanyakannya
terlebih dahulu ke Angel, sebelum Dennis menemui kedua orangtua Angel dan
meminangnya secara resmi. Sontak Angel terkejut, perasaannya berubah menjadi
tidak karuan. Yang mana seharusnya Angel merasa senang, tetapi justru dia
merasa tidak ingin semua ini terjadi. Angel hanya diam terpaku, tapi Dennis
terus mendesaknya dengan pertanyaan dan menyodorkan sebuah kotak berisikan
cincin permata Dennis pun berkata “Will you married me?” sebuah pertanyaan yang
singkat tapi Angel bingung menjawabnya.
“Apa
keputusan kamu tidak terlalu cepat Den?”
“Apanya yang cepat Beb, kita udah menjalin hubungan selama 2 tahun lebih. Apa itu tidak cukup untuk kita membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius? atau kamu tidak ingin mendapingiku hingga akhir hayat memisahkan kita?”
“Bukan begitu Den. Tapi…”
“Apanya yang cepat Beb, kita udah menjalin hubungan selama 2 tahun lebih. Apa itu tidak cukup untuk kita membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius? atau kamu tidak ingin mendapingiku hingga akhir hayat memisahkan kita?”
“Bukan begitu Den. Tapi…”
Ucapan Angel terhenti manakala ia merasa bahwa
perasaannya kepada Dennis sudah mulai memudar. Karena kesibukan Dennis, membuat
merasa perhatian Dennis terhadapnya mulai berkurang. Dan pikirannya terfokus ke
Dion, orang yang memberinya perhatian lebih dari Dennis.
“Tapi
apa?”
“Beri aku waktu, Saat ini aku belum bisa menjawabnya. Semua butuh pertimbangan.”
“Baiklah, aku takkan menganggumu beberapa hari ke depan. Pikirkanlah ajakan ku, sungguh aku sangat menyayangimu… Love U” Dennis pun pergi meninggalkan Angel sendiri.
“Beri aku waktu, Saat ini aku belum bisa menjawabnya. Semua butuh pertimbangan.”
“Baiklah, aku takkan menganggumu beberapa hari ke depan. Pikirkanlah ajakan ku, sungguh aku sangat menyayangimu… Love U” Dennis pun pergi meninggalkan Angel sendiri.
Dengan ucapan “LOVE YOU” dan sebuah kecupan
mendarat di kening Angel, semakin membuat Angel bimbang. Ia tahu bahwa Dennis
benar-benar menyayanginya. Tetapi ia juga tak mampu membohongi hatinya, kalau
saat ini perasaannya hanya tertuju pada Dion. Dennis pun meninggalkan Angel di
kamar kostnya sendirian. Dia memberikan kesempatan kepada Angel untuk berfikir,
Dennis sadar bahwa ajakannya memang terkesan mendadak.
Angel hanya duduk terdiam seorang diri dalam kamar
kostnya yang mungil itu. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dua jam Angel lalui
berdiam diri, dan akhirnya memutuskan untuk menemui Dion.
“Hallo Ion, kamu dimana?”
“Di rumah aja… Kenapa Ngell?”
“Boleh gak kita ketemuan, ada yang mau aku omongin nih.”
“Hm, Boleh kapan?”
“Sekarang… aku tunggu kamu di taman plaza yah!”
“Okay…”
“Di rumah aja… Kenapa Ngell?”
“Boleh gak kita ketemuan, ada yang mau aku omongin nih.”
“Hm, Boleh kapan?”
“Sekarang… aku tunggu kamu di taman plaza yah!”
“Okay…”
Satu jam lamanya Angel menunggu, dengan penuh
kesabaran. Berharap Dion benar datang dan ia pun meluapkan segala
kegundahannya. Bahkan terlintas dipikiran Angel ingin menanyakan perasaan Dion
terhadapnya, agar segala bentuk perhatian Dion ke Angel bisa terjawab. Dan
Angel bisa mengetahui perasaan Dion terhadapnya.
“Hay Ngell… sorri banget yah, tadi aku ngaterin
Ranti pulang dulu, trus nemuin kamu.”
“Ahh… nggak papa kok. Lagian aku juga gak tau kalo kamu lagi sama Ranti.”
“Santai aja kali, hubungan kita berdua masih aman.”
“Maksud kamu?”
“Hubungan persahabatan kita. Aku udah nyeritain semua ke Ranti, tentang persahabatan kita yang aneh banget. Bahkan aku bilang ke Ranti, andai hati aku tidak terpaut lebih dahulu ke dia. Ada kemungkinan aku jatuh cinta pada mu.”
“Ahh… nggak papa kok. Lagian aku juga gak tau kalo kamu lagi sama Ranti.”
“Santai aja kali, hubungan kita berdua masih aman.”
“Maksud kamu?”
“Hubungan persahabatan kita. Aku udah nyeritain semua ke Ranti, tentang persahabatan kita yang aneh banget. Bahkan aku bilang ke Ranti, andai hati aku tidak terpaut lebih dahulu ke dia. Ada kemungkinan aku jatuh cinta pada mu.”
Sontak Angel kaget mendengarkan ucapan Dion
barusan. Ternyata Dion bener-bener hanya menganggap Angel real sebagai
sahabatnya saja. Perasaan kecewa pun merasuki hatinya, dia merasa jauh lebih
sakit ketimbang di tinggalkan oleh Dennis, seorang cowok yang telah menemaninya
selama 2 tahun lebih, dan telah memberikan kasih sayang penuh kepadanya. Maka
Angel pun berubah pikiran untuk menanyakan perasaan Dion terhadapnya, karena
belum sempat pertanyaan itu terlontar. Dion telah memberi isyarat lebih dahulu
kepadanya. Bahwa Ranti hanyalah satu-satunya gadis yang ada di dalam hati Dion
saat ini.
Perasaan kecewa menghinggapi dada Angel. Dia
merasa bahwa Dion hanya mempermainkan perasaannya saja. Namun kembali lagi,
Angel harus sadar bahwa di antara perasaan dia terhadap Dion terselip rasa yang
tertinggal untuk Dennis. Kalaupun memang Dion sangat menyayangi Ranti lebih
dari perkiraan Angel. Itu semua harus ia terima, sebab Ranti memang lebih
dahulu mengisi hati Dion sebagai kekasih. Walau Angel mengenal Dion lebih lama,
sebagai sahabatnya.
Diamnya Angel membuat Dion merasa heran, dan dia
pun menanyakan tujuan Angel memanggilnya ke taman.
“Woii… ngelamun ajah, tadi kamu bilang mau ngomong sesuatu sama aku. Apa?”
“Ahk, nggak kok… gak ada. Tadi aku cuman suntuk di kosan sendirian, makanya pengen ketemu sama kamu. Sorri banget yah, tadi aku beneran gak tau kalau kamu lagi sama Ranti. Sekali lagi maaf yah!”
“Woles woi… kamu kayak baru kenal aku aja. Keliatannya kamu lagi galau nih, ya udah cerita deh!”
“Hm, tadi Dennis datang menemui ku.”
“Wah bagus dunk… tapi kok kamu murung?”
“Aku bingung dengan perasaan aku saat ini”
“Kenapa?”
“Dennis ngajak aku nikah”
“Lantas apa yang membuat kamu bingung?, bukannya itu kabar baik. Itu berarti Dennis serius sama kamu.”
“Iya aku tau itu. Tapi…”
“Tapi apa?”
“Woii… ngelamun ajah, tadi kamu bilang mau ngomong sesuatu sama aku. Apa?”
“Ahk, nggak kok… gak ada. Tadi aku cuman suntuk di kosan sendirian, makanya pengen ketemu sama kamu. Sorri banget yah, tadi aku beneran gak tau kalau kamu lagi sama Ranti. Sekali lagi maaf yah!”
“Woles woi… kamu kayak baru kenal aku aja. Keliatannya kamu lagi galau nih, ya udah cerita deh!”
“Hm, tadi Dennis datang menemui ku.”
“Wah bagus dunk… tapi kok kamu murung?”
“Aku bingung dengan perasaan aku saat ini”
“Kenapa?”
“Dennis ngajak aku nikah”
“Lantas apa yang membuat kamu bingung?, bukannya itu kabar baik. Itu berarti Dennis serius sama kamu.”
“Iya aku tau itu. Tapi…”
“Tapi apa?”
Angel bingung harus berkata apa lagi. Ia ingin
meluapkan perasaanya kepada Dion tapi, Angel telah mendengarnya sendiri kalau
Dion begitu menyayangi pacarnya. Dan itu berarti tak ada kesempatan untuk
mereka bisa bersatu.
Melihat Angel kebingungan Dion pun berusaha
menenangkannya. Sore itu Dion mengajak Angel ke pantai, untuk membuat suasana
hati Angel sedikit tenang. Setibanya mereka di pinggir pantai, Dion menggenggam
erat tangan Angel. Dan seketika itu pula Angel berbalik ke arah Dion, dan
menatapnya dalam-dalam. Dan beribu pertanyaan terlintas di benaknya, “Apa ini?,
apa semua ini hanya wujud perhataian Dion terhadapku sebagai seorang sahabat”
rasa dalam hati Angel pun menjadi tak karuan, ia berusaha mengubur dalam-dalam
perasaannya terhadap Dion.
Dion sadar, dengan tindakannya itu akan
menimbulkan beribu pertanyaan terhadap Angel. Dan tanpa berfikir panjang lagi.
Dion mengungkapkan perasaanya kepada Angel.
“Rasa
cinta itu memang tak ada yang tahu kapan ia datang Dan pergi kapan pun ia
inginkan. Begitupun dengan perasaan yang aku miliki saat ini terhadapmu.”
“Maksud kamu apa Ion?”
“Angel, sebenarnya perasaan ku terhadapmu telah lama aku pendam. Tetapi pada saat itu aku bingung dengan perasaan ini. Seperti yang kamu tahu, kita hanya saling mengenal satu sama lain lewat Facebook. Selama 4 tahun, tanpa berfikir untuk bertemu. Dan ketika kita berada dalam ruang lingkup yang sama, aku telah bersama wanita lain. Dan waktu itu aku berusaha mencari tahu tentang dirimu, setelah mengetahui kau telah bersama cowok lain, maka ku urungkan niat ku untuk mengenal mu lebih dekat, bahkan untuk menegurmu pun aku tak sanggup. Aku takut, setelah kita akrab perasaan ku berubah menjadi semakin menyayangimu padahal kau dan aku telah memiliki pasangan masing-masing.”
“Maksud kamu apa Ion?”
“Angel, sebenarnya perasaan ku terhadapmu telah lama aku pendam. Tetapi pada saat itu aku bingung dengan perasaan ini. Seperti yang kamu tahu, kita hanya saling mengenal satu sama lain lewat Facebook. Selama 4 tahun, tanpa berfikir untuk bertemu. Dan ketika kita berada dalam ruang lingkup yang sama, aku telah bersama wanita lain. Dan waktu itu aku berusaha mencari tahu tentang dirimu, setelah mengetahui kau telah bersama cowok lain, maka ku urungkan niat ku untuk mengenal mu lebih dekat, bahkan untuk menegurmu pun aku tak sanggup. Aku takut, setelah kita akrab perasaan ku berubah menjadi semakin menyayangimu padahal kau dan aku telah memiliki pasangan masing-masing.”
Dion menjelaskan panjang lebar mengenai
perasaannya terhadap Angel, bentuk perhatian yang ia berikan kepada Angel itu
benar-benar real dari dalam hati. Seketika Angel tersadar, bahwa perasaannya
kepada Dion tidak bertepuk sebelah tangan. Perhatian yang selama ini ia rasakan
dari Dion kembali mengoyak hatinya. Entah apa yang harus dia lakukan, belum
sempat Angel mengungkapkan perasaanya. Dion kembali mengungkapkan isi hatinya
saat ini.
“Pertemuan
kita beberapa minggu yang lalu, membuat rasa percaya diriku kembali dan sejenak
melupakan status hubungan ku dengan wanita lain. Jujur aku merasa nyaman dekat
kamu, tapi ketika aku menyadari kau telah ada yang memiliki dan begitupun
dengan ku. Membuat ku kembali tersadar tak sepantasnya kita mengkhianati
perasaan pasangan kita. Namun aku tak ingin hubungan kita berakhir sampai
disini.”
Tapi belum selesai Dion mengungkapkan perasaannya,
Angel mulai bersuara.
“Tapi…
Aku terlanjur menyayangimu Dion, justru perasaan ini lah yang membuat ku
berfikir menerima pinangan Dennis. Lalu apa yang harus ku perbuat?”
“Angel, jika kita bisa menjaga persahabatan kita hingga saat ini. Lalu kenapa mesti kita nodai dengan perasaan yang hanya sesaat ini. Dennis adalah lelaki yang baik, aku yakin kamu akan hidup bahagia bersamanya. Tadi aku bertemu dengan Ranti, tak sedikitpun ia protes dengan sikap cuekku terhadapnya, aku tak sanggup meninggalkannya begitu saja. Dia seorang wanita yang telah mau menerimaku apa adanya, hingga detik ini perasaannya terhadap ku tidak berubah, meskipun telah beberapa minggu aku mencampakkannya.” Dion terus berusaha meyakinkan Angel bahwa apa yang dirasakannya hanyalah perasaan sesaat.
“Angel, jika kita bisa menjaga persahabatan kita hingga saat ini. Lalu kenapa mesti kita nodai dengan perasaan yang hanya sesaat ini. Dennis adalah lelaki yang baik, aku yakin kamu akan hidup bahagia bersamanya. Tadi aku bertemu dengan Ranti, tak sedikitpun ia protes dengan sikap cuekku terhadapnya, aku tak sanggup meninggalkannya begitu saja. Dia seorang wanita yang telah mau menerimaku apa adanya, hingga detik ini perasaannya terhadap ku tidak berubah, meskipun telah beberapa minggu aku mencampakkannya.” Dion terus berusaha meyakinkan Angel bahwa apa yang dirasakannya hanyalah perasaan sesaat.
Angel
hanya diam, terpaku atas pengakuan Dion terhadapnya. Dan mulai berfikir, apa
yang Dion katakan itu benar adanya. Tak seharusnya ia mengkhianati perasaan
Dennis kepadanya, orang yang selama 2 tahun lebih menyayanginya dan terus
bersabar akan segala kelakuan Angel. Sesaat Angel kembali menatap Dion dan
mulai tersenyum, melihat senyum dari wajah Angel yang mulai berkembang Dion pun
merasa lega. Bahwa tak ada yang mesti tersakiti dengan perasaan ini, sekaligus
merasakan plong karena perasaan yang ia pendam selama 4 tahun telah ia
ungkapkan. Walaupun ia sadar bahwa mereka tidak bisa bersatu.
THE
END
Cerpen
Karangan: Mutmainna
Facebook: Mutmainna Chairil
Facebook: Mutmainna Chairil
Nama:
Mutmainna
Tempat Lahir: Makassar
Tanggal Lahir: 31 Desember 1991
Asal Daerah: Makassar (Daya)
Alamat: Kodam II rudal 1 blok B 16 no. 3, Daya (Makassar)
Tinggi badan: 165 cm
Berat badan: 68 kgn
Golongan Darah: O
Kegemaran: Travelling, Masak dan Menonton
E-mail: Mutmainna.chairil[-at-]yahoo.com
Jenjang Pendidikan:
1. TK Al-hidayat
2. SD. Inpres, Manuruki II
3. MTs. Ulul Albab
4. MA. Bhayangkara, Tello lama
Motto: “Jika kamu ingin melihat masa depan mu, maka menataplah ke depan. Dan jadikan masa lalu sebagai acuan untuk maju.
Tempat Lahir: Makassar
Tanggal Lahir: 31 Desember 1991
Asal Daerah: Makassar (Daya)
Alamat: Kodam II rudal 1 blok B 16 no. 3, Daya (Makassar)
Tinggi badan: 165 cm
Berat badan: 68 kgn
Golongan Darah: O
Kegemaran: Travelling, Masak dan Menonton
E-mail: Mutmainna.chairil[-at-]yahoo.com
Jenjang Pendidikan:
1. TK Al-hidayat
2. SD. Inpres, Manuruki II
3. MTs. Ulul Albab
4. MA. Bhayangkara, Tello lama
Motto: “Jika kamu ingin melihat masa depan mu, maka menataplah ke depan. Dan jadikan masa lalu sebagai acuan untuk maju.





0 komentar:
Posting Komentar