Pelajaran Dari Pengemis Tua
Kisah dari pengalaman seorang temanku di sekolah. Waktu itu saat pelajaran Bahasa Indonesia, kami diperintahkan untuk menceritakan pengalaman pribadi masing-masing apa saja terserah apa yang mau diceritakan olah kami semua. Saat keesokan harinya tugas itu pun dikumpulkan, dan kami semua juga diperintahkan untuk membacakannya di depan teman-teman semua.
“Tugasnya sudah dikumpulkan semua ini?”. Kata Bu Tika yang
merupakan guru Bahasa Indonesia di kelasku bertanya kepada semua murid di dalam
kelas itu.
“Sudah Bu”. Kami semua serentak menjawab pertanyaan beliau.
“Ibu mau kalian membacakan cerita kalian di depan kelas, agar teman-teman kalian tahu tentang pengalaman kalian, dan sebagai nilai tambah dalam pelajaran Ibu kali ini.
“Sudah Bu”. Kami semua serentak menjawab pertanyaan beliau.
“Ibu mau kalian membacakan cerita kalian di depan kelas, agar teman-teman kalian tahu tentang pengalaman kalian, dan sebagai nilai tambah dalam pelajaran Ibu kali ini.
Setelah mendengar perintah tersebut kami semua pun akhirnya
mempersiapkan diri untuk bercerita di depan kelas, walaupun ada beberapa dari
temanku tidak mau maju ke depan karena malu untuk membacakannya. Tapi tetap
saja demi penilaian akhirnya mereka maju untuk menceritakan kisah mereka
masing-masing.
Silih berganti teman-temanku dipanggil untuk menceritakan kisah
mereka, kamipun ikut larut pada setiap kisah pengalaman pribadi yang
diceritakan semuanya. Sampai pada pembaca yang selanjutnya, itulah temanku
gilirannya. Dia menawarkan diri untuk bercerita tanpa dipanggil oleh Bu Tika.
Pada saat dia maju ke depan kelas dan menceritakan kisahnya, itu sangat
membuatku kagum.
—
“Pada suatu hari saya sedang menemani ibu saya berbelanja buah di
sebuah toko buah di daerah rumah saya. Hampir rutin saya berbelanja buah
disana. Suatu ketika, di sore hari saya berbelanja buah dengan ibu saya, seusai
berbelanja akhirnya saya pun pulang bersama Ibu saya. Tapi saat saya menuju ke
luar toko buah tersebut, di sudut toko buah itu terlihat seseorang sedang duduk
dengan pakaian yang tidak selayaknya dipakai, perawakan yang agak tua tubuhnya
terlihat lemah dan kelihatannya matanya itu buta.”
“Pada akhirnya saya berniat untuk sedikit menyedekahkan uang
saya, walaupun itu hanya beberapa rupiah sisa kembalian berbelanja buah tadi,
karena saya kasihan terhadapnya dengan ikhlas dan mengaharapkan Ridho Allah
saya berikanlah di atas mangkok yang ada di depannya. Bayangkan seorang
pengemis tua yang buta duduk di pinggir toko hanya untuk mengaharap belas
kasihan setiap pengunjung dan orang-orang yang berlalu lalang disana. Dia pun
terlihat senang pada pemberian saya, dan saya juga senang bisa memberikan
sedikit rejeki terhadapnya. Hal itu selalu saya lakukan saat berbelanja ke toko
buah itu.”
“Namun pada suatu hari, dengan rasa terburu-buru saya berbelanja
di toko buah itu. Kebetulan ibu saya memerintahkan saya untuk kesana. Dengan
rasa terburu-buru setelah melakukan transaksi di dalam toko itu, keluarlah saya
tanpa memberikan sedikit rejeki saya yang biasanya saya berikan pada pengemis
tua itu. Namun, ketika saya keluar dari sana. Saya mendengar pengemis itu
berkata *Bu haji kok tidak memberikan saya uang, kenapa langsung pergi?*.
kata-kata itu mebuat saya terheran-heran, bagaimana dia tahu kalau saya berada
di tempat itu sementara matanya saja dalam keadaan buta. Akhirnya dari situ
saya merasa diri saya tertipu oleh pengemis itu, dan saya pun bergegas pulang
dengan perasaan kesal, tidak percaya dan sangat kecewa. Padahal saya sudah
mempercayai pada apa yang diderita pengemis itu, dan saya pun menjadikan semua
pelajaran atas apa yang saya alami saat itu.”.
“Tamat”.
—
Dia pun mengakhiri ceritanya dan kembali
ke temapat duduknya.
Dari cerita singkat itu pun saya juga mendapat pelajaran dari kisah tersebut, memang benar jika saya menjadi dia saya akan merasa kesal ketika ditipu semacam itu. Semua murid di kelas memberikan tepuk tangan pada ceritanya. Dan itu merupakan kisah yang sangat bagus sekali.
Dari cerita singkat itu pun saya juga mendapat pelajaran dari kisah tersebut, memang benar jika saya menjadi dia saya akan merasa kesal ketika ditipu semacam itu. Semua murid di kelas memberikan tepuk tangan pada ceritanya. Dan itu merupakan kisah yang sangat bagus sekali.
Cerpen Karangan: Atikah
Blog: akarifah.atiekah.blogspot.com
Facebook: senandung sastra
Blog: akarifah.atiekah.blogspot.com
Facebook: senandung sastra





0 komentar:
Posting Komentar