Aku, kamu, kita
Udah hampir 6 jam gua mantengin layar laptop dan
gua gak tau mau mulai ngetik dari mana? gua gak tau gua harus mulai dari huruf
apa? bahkan sempat beberapa kali gua ketik dan gua hapus lagi. Gua GAlAU! iya,
gua Galau bukan karena gua gak tau mau ngetik apa, tapi gua galau karena
perasaan gua yang lagi sekarat, sekarat karena gua baru aja putus dari pacar
gua, ironisnya masih ada hal yang gua rasa belum bisa berlalu gitu aja.
Intan,
nama yang masih aja muter-muter di kepala gua, nama yang masih aja jadi nama
yang keramat kalo gua denger, nama yang udah buat hidup gua kaya sekarang… iya
GALAU TINGKAT DEWA kaya sekarang.
Tepat
2 bulan yang lalu gua kenal dia, pertama kali ketemu dia… jujur aja gua sempat
blank dan gak tau mau ngomong apa, gua cuma bisa diem, gua jadi lemot dan
bahkan untuk kenalan sama dia, jalan pikiran otak gua butuh waktu 15 menit cuma
untuk bilang “hai”, karena dia fix punya semua hal yang gua idam-idamkan selama
hampir 3 tahun, dia punya senyum yang manis, tatapan yang indah, dan sikap yang
lembut. Gua gak mau nunggu lebih lama lagi, gua gak mau gini” terus sampai
akhirnya gua beranikan diri untuk bisa kenalan, ngobrol kecil, dan minta nomer
hp nya.
Hari-hari
gua berikutnya mulai berbeda dari biasanya, mulai dari buka mata sampai mau
merem lagi, kita pasti smsan, gak perduli lagi sibuk atau enggak, lagi dalam
kondisi apapun gua berusaha untuk nyempetin bales sms dari dia, gua semangat
dan gua ngerasa seolah baru bangun dari tidur panjang gua semenjak dia hadir di
kehidupan gua.
1
Minggu berlalu dan hari ini adalah hari sabtu yang berarti malam minggu pertama
setelah kenal dia, dan menurut prinsip gua kalo malam ini adalah saat-saat
paling menentukan untuk kelangsungan hubungan gua sama dia kedepannya, dan
malam itu gua beranikan diri untuk ajak dia jalan-jalan, gak butuh waktu lama
untuk tiba di rumahnya, senyum manis itu seolah menjamu kedatangan gua dan kita
akhirnya berangkat. Selama di jalan kita ngobrol tentang banyak hal, gua banyak
cerita tentang hidup gua dan gua juga banyak mendengar cerita hidupnya dia,
kita juga menelusuri jalan braga sambil bercerita tentang perasaan, dan itu
menyadarkan gua kalo ini adalah saatnya untuk nyatain perasaan gua ke dia. Gak
kerasa kita sama-sama capek keliling-keliling kota dan mampir ke sebuah
minimarket, membeli minuman dan setelah itu kita istirahat sebentar di depan
minimarket itu, gua mulai membicarakan tentang perasaan, gua mulai merinding,
jantung gua mulai gak karuan, dan lebih parahnya lagi adalah gua jadi mules. Tapi,
gua gak mau kesempatan itu lewat gitu aja, gua akhirnya nembak dia dan tepat
malam itu juga dia bilang kalo dia nyaman sama gua dan mau jadi pacar gua. Gua
loncat-loncat kegirangan bahakan tukang parkir gua ajak joget, tapi di balik
bahagianya gua malam itu, dibalik senyumannya saat ngelihat gua bahagia, ada
keraguan di matanya bahkan lebih kepada tatapan takut.
1
Minggu setelah pacaran semuanya pun berubah, hp yang biasanya sering bunyi
karena ada sms dari dia sekarang mulai hening, sms yang tadinya bisa sampai 2
halaman layar, sekarang kurang dari 160 karakter bahkan dari 2 baris, suaranya
yang biasanya nemenin gua di malam hari sampe ketiduran sekarang cuma laptop
dengan puluhan playlist galau yang nemenin malam gua. Beberapa kali, gua coba
untuk ketemu dan minta penjelasan atas sikapnya dia, tapi dia cuma selalu jawab
kalo dia sibuk kerja dan gua berusaha kok untuk terima, walaupun gua mulai
ngerasa ada sesuatu yang gak beres.
1
Minggu berikutnya hubungan gua makin gak jelas sama dia, bahkan sms gua kemarin
baru di bales hari ini, gua bukan gila perhatian atau gak bisa ngertiin tapi
gua butuh penjelasan, gua cuma butuh alasan atas sikap dia yang makin lama
makin gak bisa gua tolerir lagi. keadaan makin memburuk, hari minggu dan malam
ini harusnya jadi malam dimana hubungan gua sama dia akan terhitung 1 bulan,
gua berharap dia ingat, walaupun gua tau sebaliknya. Gua beranjak dari kasur,
siap-siap, dan langsung bergegas keluar rumah, kepala gua rasanya mau pecah,
dinding kamar gua semuanya wajah dia, gua akhirnya mutusin untuk pergi ke
tempat gua biasanya makan sama dia, tapi malam itu gua gak pernah duga kalo
semua bakal jadi seburuk ini, gua gak pernah punya firasat kalo gu akan ketemu
dia disitu… dia gak sendiri kok ! dia sama cowok lain dan positif thinking gua
berakhir pula ketika mereka suap-suapan makan dan cowok itu ternyata teman gua
sendiri, teman yang selama ini ngikutin updetan curhatan gua tentang dia, teman
yang selalu jadi tempat gua untuk cerita begitu banyak hal… iya teman yang gua
gak pernah nyangka untuk separah ini.
Gua
masih aja diam di belakang mereka dan gak tau mau ngelakuin apa, kaki gua gak
mau melangkah pergi, dan akhirnya Intan tanpa sengaja menyadari keberadaan gua
disitu, dia kaget, bingung, salah tingkah, dan temen gua berusaha untuk nyuruh
gua tenang dan dia akan ngejelasin semuanya. Gua cuma bilang “CUKUP!!”, iya gua
cuma bilang “cukup sakit rasanya dikhianati sama 2 orang yang berarti buat
gua”. Gua melangkah pergi dari situ bahkan Intan masih sempat untuk nahan gua,
tapi dia di tahan sama temen gua.
Hari
demi hari, dan minggu-minggu gua berikutnya mulai normal dan kembali seperti
dulu, gua pacaran sama laptop gua, gua curhat sama laptop gua, kalo ditanya
move on, gua rasa move on dalam versi gua adalah untuk melanjutkan hidup yang
udah gua tinggalin cukup lama, dan tetap mencintai dia, dan bahkan untuk juga
masih merangkul bahu teman gua.
Gua
cukup sakit dengan keadaan yang gitu-gitu aja, gua paham dengan keadaan dimana
gua gak bisa terus-terusan untuk pasang muka biasa aja di depan mereka berdua,
tapi cuma dengan cara itu mereka akan mikir kalo gua udah bisa mengikhlaskan
dan itu juga jadi satu cara untuk gua bisa terus ketemu Intan, satu-satunya
cara untuk gua bisa lihat dia senyum, bisa lihat matanya, bahkan cuma itu
satu-satunya jalan untuk gua bisa bertahan walaupun perlahan itu juga jadi
alasan untuk gua serapuh serapuh ini.
Belajar
dari apa yang gua rasain sekarang, gua tau gimana bahagianya mereka berdua,
karena gua pernah ada disitu dan pernah merasakan apa itu bahagia dengan wanita
yang sama… INTAN!!
gua belajar dengan mengikhlaskan apa yang bukan milik gua untuk tetap ada disana, dan jadi milik orang lain. Gua menghargai diri gua sendiri, gua memilih untuk meniadakan apa yang seharusnya memang tidak pernah ada, gua memilih untuk belajar melepaskan sesuatu yang belum benar-benar jadi milik gua.
gua belajar dengan mengikhlaskan apa yang bukan milik gua untuk tetap ada disana, dan jadi milik orang lain. Gua menghargai diri gua sendiri, gua memilih untuk meniadakan apa yang seharusnya memang tidak pernah ada, gua memilih untuk belajar melepaskan sesuatu yang belum benar-benar jadi milik gua.
Tapi
ironisnya masih ada 1 hal yang gua rasa belum bisa berlalu gitu aja.. gua cuma
mau bilang ke dia untuk jangan pernah lupakan KITA, jangan pernah biarkan KITA
ditelan waktu, karena KITA pernah sama-sama merasakan apa itu cinta dan apa itu
bahagia, sebelum ada kalian pernah ada KITA kan?
“Berbahagialah
kamu di sana, tapi ingatlah KITA.. iya Aku sama Kamu sebagai Aksara paling
abadi dan Aku masih ingin untuk mencintai Kamu sekali lagi agar akan lagi KITA
setelah kalian”
01 September 201318:06
Cerpen Karangan: Bram Cahyadi Massa
Blog: bewinchester.wordpress.com
Facebook: Bram Cahyadi Massa
Twitter : @abammassa





0 komentar:
Posting Komentar