Awas.. si buntung mau lewat, beri dia
jalan teman teman” teriak seorang anak
“Hahaha… dasar buntung” lanjutnya sambil tertawa
Tak bosan bosannya mereka mengejekku, aku memang sudah terbiasa dengan ejekannya. Tapi… kadang aku merasa merasa menyesal di lahirkan dengan keadaan cacat begini. Aku iri dengan mereka yang terlahir dengan kesempurnaan. Mereka bisa berlari kesana kemari sepuasnya, tapi aku? berjalan saja lambat seperti seekor siput.
“Hahaha… dasar buntung” lanjutnya sambil tertawa
Tak bosan bosannya mereka mengejekku, aku memang sudah terbiasa dengan ejekannya. Tapi… kadang aku merasa merasa menyesal di lahirkan dengan keadaan cacat begini. Aku iri dengan mereka yang terlahir dengan kesempurnaan. Mereka bisa berlari kesana kemari sepuasnya, tapi aku? berjalan saja lambat seperti seekor siput.
Namaku
Amir, umurku 15 tahun. Aku duduk di kelas 3 Sekolah Menengah Pertama. Bapak dan
Ibuku adalah seorang petani, kehidupan kami bergantung pada lahan itu. Aku
sangat ingin kaki palsu… tapi penghasilan orangtuaku yang pas pasan hanya cukup
untuk kebutuhan sehari hari, mana bisa beli kaki palsu? aku harus mememdan
mimipiku dalam dalam.
Banyak
anak anak di sekolah menjauhiku, alasanya mereka malu berteman denganku. Tapi
Lili dan Wandi berbeda, mereka mau menjadi temanku. Dengan di bantu tongkat
kayu aku berjalan menuju kelas, “Amir… amir tunggu” sebuah suara yang tak
asing lagi, ya Lili memanggilku. Dengan napas terpenggal penggal, Lili berusaha
untuk bicara.
“Kenapa berlari seperti itu?” tanyaku penasaran
“Ah ngga penting, itu… nama kamu ada di daftar pemain Sepak Bola untuk perlombaan bulan depan” katanya dengan napas yang masih terpenggal
“Hahaha, kamu memang ahli bergurau” jawabku sambil tertawa
“Kamu tidak percaya? ayo ikut aku ke mading sekolah”
“Kenapa berlari seperti itu?” tanyaku penasaran
“Ah ngga penting, itu… nama kamu ada di daftar pemain Sepak Bola untuk perlombaan bulan depan” katanya dengan napas yang masih terpenggal
“Hahaha, kamu memang ahli bergurau” jawabku sambil tertawa
“Kamu tidak percaya? ayo ikut aku ke mading sekolah”
Aku
pun mengikuti langkahnya Lili menuju ke mading sekolah. Namaku tertera di
daftar itu, percaya tidak percaya… ini sepeti bermimpi. Bagaimana aku bermain
Sepak bola dengan keadaanku yang seperti ini? Padahal aku tidak pandai bermain
sepak bola.
Adzan
dzuhur menggema di telingaku, aku mengambil air wudhu untuk menenangkan
pikiranku yang kalut ini. Setelah melaksanakan sholat, ada kekuatan yang
membuatku percaya diri. 1 bulan aku mendapatkan berbagai macam latihan, awalnya
terasa sangat sulit… aku mencoba dan terus mencoba. Hari ini perlombaan di
mulai.
Keringat dingin bercucuran dari tubuhku, kedudukan kami 2 – 2 momen yang sangat menegangkan. Waktu terus berjalan, detik detik terakhir kami mencetak gol dan akhirnya team kami menang. Kami membawa pulang sebuah Piala dan Uang tunai. Kini aku tau, di dunia ini tak ada kata tidak mungkin selama kita masih berjuang.
Keringat dingin bercucuran dari tubuhku, kedudukan kami 2 – 2 momen yang sangat menegangkan. Waktu terus berjalan, detik detik terakhir kami mencetak gol dan akhirnya team kami menang. Kami membawa pulang sebuah Piala dan Uang tunai. Kini aku tau, di dunia ini tak ada kata tidak mungkin selama kita masih berjuang.
Cerpen
Karangan: Ambarnia
Facebook: Ambar Nia
Kritik dan saran bisa lewat @nia_ambar
Facebook: Ambar Nia
Kritik dan saran bisa lewat @nia_ambar
http://cerpenmu.com/cerpen-motivasi/bintang-lapangan.html





0 komentar:
Posting Komentar